Bset Prastice inklusi

BEST PRACTICE


MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR
PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS MELALUI
PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS LINGKUNGAN
DI SMA NEGERI KOTA BAHAGIA





OLEH:
SUPAMAN ADI WIYATMOKO, S.P.Gr
NIP. 198906192015041001





PEMERINTAH ACEH
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI KOTA BAHAGIA
2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Allah SWT, atas segala rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat meneylesaikan Best Practice ini dengan judulMeningkatkan Motivasi dan Partisipasi BelajarPeserta Didik Berkebutuhan Khusus Melalui
Pembelajaran Kimia Berbasis Lingkungan di SMA Negeri Kota Bahagia.Best Practice ini  disusun untuk memenuhi syarat mengikuti lomba guru berprestasi di Sekolah Inlusif jenjang SMA/SMK tingkat provinsi tahun 2019.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan Best Practice yaitu Kepada :
1.      Kepada bapak  Drs Adi Multaselaku Pelaksana Tugas Cabang Dinas Pendidikan Aceh Wilayah Aceh Selatan yang telah memberi motivasi dan dukungan.
2.      Kepada ibuDra, SuryatiPengawasPembina SMA Negeri  Kota Bahagia yang telah memberi arahan dan bimbingan.
3.      Kepada Bapak Sulaiman,S.PdKepala Sekolah SMA Negeri Kota Bahagia  yang telah membimbing dan memberikan saran serta masukan yang konstruktif.
4.      Kepada sahabat, rekan kerja sejawat dan seluruh staf, dewan guru dan pegawai pendidik SMA Negeri Kota Bahagia yang memberikan dukungan secara ikhlas.
5.      Kepada seluruh masyarakat Kota Bahagia yang sangat berpartisipasi dan pro aktif dalam menyukseskan pendidikan di SMA Negeri Kota Bahagia.
Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian Best Practice ini, namun penulis menyadari bahwa tidak ada tulisan yang sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca  demi perbaikan Best Practice ini.
Semoga Best Practice Guru ini dapat bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.

                                                                  Aceh Selatan,  April 2019
                                                                  Penulis,


                                                                  Supaman Adi Wiyatmoko, S.Pd.Gr
NIP. 198906192015041001
DAFTAR ISI
                                                                                                                           Hal
HALAMAN JUDUL...................................................................................      i
KATA PENGANTAR................................................................................      ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................      iii
DAFTAR TABEL.......................................................................................      iv
DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................    v
BAB I  PENDAHULUAN..........................................................................      1
1.1. Latar Belakang Masalah.............................................................      1
1.2. Fokus Best Practice....................................................................      2
1.3. Tujuan.........................................................................................      2
1.4. Manfaat ......................................................................................      3
BAB II  PELAKSANAAN.........................................................................      4
2.1.Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice...............................      4
2.2. Langkah – langkah Pelaksanaan.................................................      6
2.3. Hasil Yang dicapai .....................................................................      6
2.4. Nilai Penting dan Kebaharuan Best Prastice..............................      8
2.5. Faktor – Faktor Pendukung dan Penghambat............................      8
2.6. Tindak Lanjut ............................................................................      9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN...................................................     10
            3.1. Simpulan.....................................................................................     10   
            3.2. Saran...........................................................................................     10
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................     11



DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kondisi motivasi awal peserta didik..............................................      7
Tabel 2.1 Kondisi setelah penerapan pembelajaran.......................................      8



DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Penyataan Peulisan Best Practice......................................     12
Lampiran 2 Foto Foto Kegiatan Pembelajaran..............................................     13


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Harus diakui salah satu kebutuhan dasar manusia adalah mendapatkan pendidikan untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih beradab dan bermartabat. Oleh sebab itu negara memiliki kewajiban untuk menjamin seluruh warga negaranya mendapatkan pendidikan yang layak seperti yang diamanatkan dalam UUD Negera Republik Indonesia Tahun 1945, Khususnya pasal 31 (1). Hal demikian berlaku untuk seluruh warga negara tanpa terkecuali dengan segala perbedaan didalamnya, seperti tingkat kecerdasan, ekonomi, sosial, latar belakang suku, agama, latar belakang kondisi fisik (normal maupun cacat fisik atau mental). Sehingga seluruh warga Negara mendapatkan kesempatan untuk dapat mengembangkan diri
Berbicara mengenai pendidikan, setelah merdeka hingga saat ini Indonesia telah mengalami berbagai perubahan dan pasang surut pendidikan, mulai dari pergantian arah kebijakan pendidikan nasional yang disesuaikan dengan tujuan nasional, muatan kurikulum pendidikan, sampai pada filosofi pendidikan. Salah satunya muncul filosofi pendidikan untuk semua tanpa memandang perbedaan latar belakang kehidupan maupun status sosialnya sehingga melahirkan konsep pendidkan inklusif. Konsep pendidikan yang dapat menerima segala perbedaan peserta didik dan mampu memenuhi segala kebutuhannya yang berbeda-beda sekalipun memiliki kekurangan fisik seperti penyandang disabilitas atau biasa disebut peserta didik berkebutuhan khusus.
SMA Negeri Kota Bahagiamerupakan salah satu sekolah yang juga menyelenggarakan pendidikan inklusif guna menjamin layanan pendidikan didaerah khusus. Hal ini dimaksudkan untuk dapat memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak diwilayah terpencil dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Dari berbagai permasalahan terkait pembelajaran inklusif di sekolah salah satu permasalahan yang masih belum teratasi adalah rendahnya motivasi belajar peserta didik berkebutuhan khusus dalam kegiatan pembelajaran.
Rendahnya motivasi belajar peserta didik berkebutuhan khusus pada SMA Negeri Kota Bahagia disebabkan daerah Kecamatan Kota Bahagia adalah “zona merah” pada saat konflik dahulu. Konflik yang berkepanjangan ini menyebabkan terbengkalainya pendidikan dan perhatian orang tua kepada anak-anaknya. Ditambah kurangnya perhatian guru untuk memberikan stimulus dan media belajar yang menarik dan mudah diikuti oleh peserta didik berkebutuhan khusus. Hal ini diperparah dengan dengan proses kegiatan pembelajaran yang kurang melibatkan secarapenuh peserta didik berkebutuhan khusus secara total. Sehingga hal ini menyebabkan berkebutuhan khusus merasa terasingkan dikelas reguler.
Berawal dari latar belakang tersebut maka diperlukan sebuah solusi pembelajaran yang dapat memberikan kebutuhan seluruh peserta didik terutama berkebutuhan khusus agar dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang pada akhirnya bermuara pada keberhasilan tujuan pembelajaran. Kemudian penulis menyusun rencana sebuah pembelajaran kimia berbasis lingkungan yang penulis anggap dapat menjadi solusi atas permasalahan yang dialami disekolah. Karena itulah penulis menyusun karya tulis ilmiah dengan judulMeningkatkan Motivasi BelajarPeserta Didik Berkebutuhan Khusus MelaluiPembelajaran Kimia Berbasis Lingkungandi SMA Negeri Kota Bahagia.”

1.2  Fokus Best Practice
Penulis dalam menyusun Best Practiceini telah menentukan batasan rumusan masalah, yaitu: Bagaimanakah cara meningkatkan motivasi belajarpeserta didik berkebutuhan khusus melaluipembelajaran kimia berbasis lingkungandi kelas?

1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan Best Practiceini adalah untuk mengetahui cara meningkatkan motivasi belajarpeserta didik berkebutuhan khusus melaluipembelajaran kimia berbasis lingkungan di kelas.




1.4  Manfaat
Adapun manfaat yang penulis harapkan adalah
1.      Sebagai salah satu referensi guru dalam kegiatan pembelajaran untuk peserta didik berkebutuhan khusus.
2.      Bisa meningkatkan motivasi belajar peserta didik berkebutuhan khusus sehingga mampu mengikuti pembelajaran di kelas
3.      Sebagai contoh kegiatan pembelajaran dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah lain di provinsi Aceh.
4.      Sebagai masukan kepada Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh untuk lebih memberikan perhatian pada Pendidikan Inklusif di Aceh.




BAB II
PELAKSANAAN

2.1 Deskripsi dan Ruang Lingkup Best Practice
       A. Pengertian Pendidikan Inklusif
            Pendidikan inklusif merupakan sebuah sistem pendidikan yang berorientasi pada pelayanan pendidikan untuk semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus atau anak berlainan untuk memperoleh pendidikan (dalam Mohammad Takdir Ilahi, 2016: 87). Sejalan dengan pemikiran beliau pendidikan inklusiff memang disyaratkan untuk dapat menerima semua anak dengan berbagai perbedaan yang ada dalam satu kelas yang sama. Sehingga tidak ada istilah peserta didik “inklusif”.
            Sejalan dengan pendapat diatas, Salamanca juga menyatakan bahwa kelas khusus, sekolah khusus, atau bentuk-bentuk lain pemisahan anak penyandang cacat dari lingkungan regulernya hanya dilakukan jika hakikat tingkat kecacatannya sedemikian rupa sehingga pendidikan dikelas reguler dengan menggunakan alat-alat bantu khusus atau layanan khusus tidak dapat dicapai secara memuaskan (dalam Mohammad Takdir Ilahi, 2016: 85). Sesuai pendapat Salamanca maka akan lebih baik memberikan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus dikelas regulernya agar tumbuh kembang anak tidak terganggu.
            Harus diakui bahwa pendidkan inklusiff memiliki implikasi yang sangat baik bagi pemenuhan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Sangat penting bagi sekolah dan guru untuk dapat merangkul semua peserta didik tanpa terkecuali termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk itu Sapon-Shevin (dalam Mohammad Takdir Ilahi, 2016: 106) mengemukakan lima profil pembelajaran di sekolah inklusiff yaitu:
a.       Pendidikan inklusif berarti menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan.
b.      Mengajar di kelas memerlukan perubahan dalam penerapan kurikulum
c.       Mendorong guru untuk mengajar pendidikan inklusif berarti berupaya menyiapkan pembelajaran secara interaktif.
d.      Pendidikan inklusif berarti penyediaan dorongan bagi guru dan kelasnya untuk menghapus segala hambatan dalam pembelajaran.
e.       Pendidikan inklusif berarti melibatkan peran orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan.
       B. Motivasi Belajar
            Motivasi merupakan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan pada dirinya (Aminatul Zahroh, 2015:239). Motivasi merupakan penggerak bagi seseotang untuk bertingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu. Selain itu motivasi juga dapat dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseotang mau atau ingin melakukan sesuatu. Bentuk-bentuk motivasi belajar di sekolah sendiri menurut Aminatul Zahroh (2015: 245), antara lain memberikan angka, memberikan hadiah (reward), persaingan atau kompetisi, ego- involvement, ulangan, mengetahui hasil, memberi pujian, memberi hukuman (punishment), mengembangkan minat, kerjasama dan suasana yang menyenangkan dan tujuan yang diakui dan diterima oleh peserta didik.
       C. Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sarana Praktikum
            Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sarana Praktikum Sesuai dengan anjuran Kurikulum yang sekarang dianut oleh dunia pendidikan di negara kita, bahwasanya diharapkan siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran tetapi juga sebagai subjek pembelajaran, maka keberadaan praktikum sebagai metode pembela-jaran bidang studi sains / IPA merupakan suatu keharusan. Melalui praktikum siswa belajar menemukan konsep sendiri bersama-sama dengan teman sekerjanya dalam kelompok, sekaligus membantu pemahaman konsep yang diajarkan di kelas.
            Kekurangan atau tidak tersedianya berbagai bahan dan alat kimia seringkali
menjadi kendala tidak berlangsungnya suatu topik praktikum. Menghadapi kendala
seperti ini, sudah saatnya bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan terutama
mereka yang terkait dalam proses pembelajaran, yaitu guru dan siswa memikirkan jalan
keluarnya. Seperti diketahui, bahwa “dunia kita adalah dunia kimia”, artinya segala yang
ada di dunia ini tidak terlepas dari aspek kimiawi. Hal ini memberikan inspirasi bagi kita
bahwa lingkungan sekitar sebenarnya merupakan sarana untuk belajar kimia dan untuk
menunjukkan fenomena-fenomena kimiawi seperti yang tertulis dalam materi pelajaran
kimia yang diajarkan di kelas.


2.2 Langkah-Langkah Pelaksanaan Best Practice
       A. Perencanaan   
       a. Melakukan kordinasi dengan kepala sekolah terkait rencana pembelajaran untuk peserta didik berkebutuhan khusus dengan pembelajaran kimia berbasis lingkungan.
       b.  Menyiapkan perangkat pembelajaran kimia berbasis lingkungan yang digunakan untuk mendukung terlaksananya proses belajar mengajar
       c. Menyampaikan kepada peserta didik tujuan dan hasil yang diharapkan terhadap permasalahan yang ada.
       B. Pelaksanaan
       a. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari satu peserta didik berkebutuhan khusus dan dua peserta didik biasa.
       b. Peserta didik diberikan tugas kelompok dan didorong untuk melaksanakan literasi untuk menambah motivasi belajarnya.
       c. Peserta didik berkebutuhan khusus didorong untuk aktif berdiskusi dengan kelompoknya yang lain saling membantu kesulitan yang dialami.
       d. Mendorong peserta didik berkebutuhan khusus untuk ikut tampil kedepan mepresentasikan hasil diskusinya dengan didampingi anggota kelompoknya yang lain.
       e. Peserta didik diminta mengisi lembar refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
       f.  Penulis melakukan analisis hasil refleksi peserta didik.
g. Berdasarkan hasil analisis hasil refleksi peserta didik kemudian guru mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan yang muncul pada saat pelaksanaan pembelajaran.

2.3 Hasil yang Dicapai
            Kondisi Awal Penulis melaksanakan pengamatan secara langsung dan wawancara langsung dilapangan untuk mendapatkan data dan informasi dan data mengenai kondisi awal peserta didik dalam pembelajaran. Penulis melakukan pengamatan di kelas XI MIPA dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus. Dari data dan informasi hasil pengamatan dan wawancara kemudian oleh penulis diolah dan ditetapkanlah kondisi awal dari peserta didik. Berikut ini penulis tampilkan data kondisi awal peserta didik kelas XI MIPA secara umum dalam skala skor 10-100:
No
Aspek
Perilaku yang Ditunjukkan
Skor
1
Kepercayaan Diri
Terlihat kurang percaya diri
40
2
Minat Belajar
Kurang tertarik pada kegiatan pembelajaran
50
3
Kedisplinan
Bebrapa Peserta Didik terlambat masuk kelas dan beberapa peserta didik tidak membawa buku kimia
60
4
Kerjasama
Peserta Didik berkebutuhan khusus lebih banyak diam karena kurang mendapatkan dukungan dari teman-teman yang lain
30
Skor Rata-Rata
45
Tabel 2.1 Kondisi motivasi awal peserta didik

Dari hasil pengamatan yang penulis rangkum dalam tabel diatas diketahui bahwa skor rata-rata dari seluruh aspek  yang dinilai hanya sebesar 45. Hal ini berarti motivasi belajar masih jauh dari harapan untuk mencapai skor yang di inginkan sesuai KKM dengan skor 70.
Setelah penulis medapatkan data dan informasi mengenai kondisi awal pembelajaran sebelum menggunakan pembelajaran kimia berbasis lingkungan. Selanjutnya penulis melaksanakan pembelajaran pembelajaran kimia berbasis lingkungan sesuai dengan langkah-langkah yang sudah penulis uraikan sebelumnya. Kemudian seluruh data hasil pengamatan pembelajaran tersebut penulis olah dan rangkum sesuai kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.Berikut ini penulis tampilkan data kondisi peserta didik kelas XI MIPA setelah dilakukan pembelajaran kimia berbasis lingkungan :







No
Aspek
Perilaku yang Ditunjukkan
Skor
1
Kepercayaan Diri
Peserta Didik berkebutuhan khusus terhilat lebih percaya diri
60
2
Minat Belajar
Peserta didik sangat bersemangat dalam kegiatan pembelajaran
86
3
Kedisplinan
Seluruh peserta didik tidak ada yang terlambat masuk kelas dan hanya 1 peserta didik yang tidak membawa buku kimia
80
4
Kerjasama
Peserta Didik berkebutuhan khusus lebih aktif dalam pelaksanaan diskusi dan kerja kelompok
70
Skor Rata-Rata
74
Tabel 2.2 Kondisi setelahpenerapan pembelajaran

Dari data pada tabel dan grafik diatas, skor rata-rata mengalami kenaikan dari sebelumnya 45 menjadi 74, artinya motivasi belajar mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Seluruh aspek mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Artinya penggunaan pembelajaran kimia berbasis lingkungan  ini terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran pada kelas inklusif.

2.4 Nilai Penting dan Kebaruan Best Practiceyang telah dilaksanakan
            Pembelajaran kimia berbasis lingkungan dapat memberikan motivasi lebih besar kepada peserta didik berkebutuhan khusus di SMA Negeri Kota Bahagia. Karena pada dasarnya peserta didik ini hampir setiap hari bersinggungan dengan kimia dalam kehidupan sehari-hari hanya saja mereka tidak menyadarinya. Melalui pembelajaran kimia berbasis lingkungan peserta didik lebih menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak terlepas dari namanya zat kimia sehingga lebih menggali minat keingintahuan mereka terhadap bahan-bahan kimia terutam peserta didik yang berkebutuhan khusus.

2.5 Faktor – faktor Pendukung dan Penghambat
Keberhasilan dalam kegiatan ini didukung oleh beberapa faktor diantaranya:
a.       Faktor Dari pihak kepala sekolah yang sangat merespon program yang dilakukan.
b.      Reaksi peserta didik yang menyikapi pembelajaran kimi berbasis lingkungan yang sangat bersemangat.
c.       Banyak potensi alam di kecamatan kota bahagia yang bisa dijadikan sumber belajar di kelas.
d.      Motivasi peserta didik berkebutuhan khusus yang ingin bisa.
Adapun hambatan-hambatan yang dialami penulis dalam penerapan pembelajaran kimia berbasis lingkungan :
a.      Tidak semua materi kimia bisa dikaitkan dengan alam terutama materi abstrak dan hitungan
b.      Kurangnya kepercayaan diri beberapa peserta didik berkebutuhan khusus.
c.       Sarana dan prasarana yang masih belum memadai di sekolah.

2.6 Tindak Lanjut
Penulis menyusun langkah-langkah tindak lanjut untuk menguatkan motivasi belajar peserta didik yang mengalami perubahan signifikan dan memberikan layanan konsultatif bagi peserta didik yag dianggap tidak mengalami perubahan secara signifikan. Karena untuk menangani peserta didik berkebutuhan khusus harus dilakukan secara berkesinambungan.




BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 SIMPULAN
Berdasarkan hasil Praktik baik penulis tentang pembelajaran kimia berbasis lingkungan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran pembelajaran kimia berbasis lingkungan tersebut terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik berkebutuhan khusus di SMA Negeri Kota Bahagia dari 45 menjadi 74.

3.2 SARAN
Pendidikan inklusif terbukti dapat menjadi salah satu alternatif dalam memberikan pelayanan bagi seluruh peserta didik dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Untuk itu penulis memberikan masukan kepada pemerintah agar memberikan kegiatan peningkatan mutu pendidikan inklusif bagi sekolah-sekolah khususnya dalam rangka meningkatkan kemampuan bagi para gurunya agar pendidikan inklusif mendapatkan hasil yang maksimal.




DAFTAR PUSTAKA

Angelis, De Barbara. 2005. Percaya diri Sumber Sukses dan Kemandirian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ilahi, Mohammad Takdir. 2016. Pendidikan Inklusif Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Mudjito Dkk. 2014. Pendidikan Layanan Khusus: Model-Model dan Implementasi.
Jakarta: Baduose Media.
Prayitno. 2004. L4 Layanan Penugasan Konten . Padang: Universitas Negeri Padang.
Rusmawati, Diah Ika. 2015. Pembelajaran Kimia Berbasis Lingkungan untuk Mengembangkan Karakter dan Literasi Sains Peserta Didik. Semarang : UNNES.
Salirawati, Das. 2009. Praktikum Kimia Bebrbasis Lingkungan. Yogyakarta : Judik Kimia FMIPA UNY
Smith, J David. 2013. Sekolah Inklusiff. Bandung: Nuansa Cendikia
Zahroh, Aminatul. 2015. Membangun Kualitas Pebelajaran Melalui Dimensi
Profesionalisme Guru. Bandung: Yrama Widya.




LAMPIRAN

Gambar 1. Surat Pernyataan Penulisan Best Practice



FOTO-FOTO KEGIATAN PEMBELAJARAN

Gambar 2 Suasana pembelajaran awal

Gambar 3. Suasana Pembelajaran Kimia Berbasis Lingkungan



Gambar 4. Hasil Pembelajara kimia berbasis Alam



Gambar 5. Peserta didik memperhatikan bimbingan dari guru

0 Komentar