Makalah Tes dan Pengukuran Cabang Olahraga Karate

BAB I

PENADAHULUAN

 

A.    Pendahuluan

Pada kehidupan manusia pasti akan dihadapkan dengan beberapa masalah yang ada, sangat kompleks sekali masalah demi masalah yang muncul. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki manusia, manusia akan selalu berusaha untuk menyelesaikan semua masalah-masalah itu. Tetapi terkadang seseorang akan lupa terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri, lebih-lebih pada masalah fisik, yaitu tentang kesegaran jasmani. Banyak dari mereka yang sibuk, akan lupa terhadap kesehatan dan kestabilan kesegaran jasmaninya.

Kesegaran jasmani seseorang adalah kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan tugas pekerjaan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, untuk dapat mencapai kondisi kesegaran jasmani yang prima seseorang perlu melakukan latihan fisik yang melibatkan beberapa komponen kesegaran jasmani dengan metode latihan yang benar.

Tes,  Pengukuran,  dan  Evaluasi  merupakan  bagian  yang  tak  terpisahkan  dalam berbagai  kegiatan  manusia,  demikian  pula  halnya dalam  kegiatan pengajaran  dan pelatihan olahraga.Karena   dengan   melaksanakan   ketiga   hal   tersebut   kita   dapat mengetahui  perkembangan  dan kekurangan,sehingga  akhirnya  dapat  membuat  suatu keputusan  yang  tepat. Pengajaran  dan pelatihan  olahraga  merupakan  sebuah  proses yang dinamis, pengajar/pelatihdan pembina menghadapi berbagai permasalahan  yang membutuhkan  pemecahan.    Semakin  teliti    informasi  yang  diperoleh  (melalui  tes  dan pengukuran) akan semakin baik keputusan yang diambil.

Pada kehidupan manusia pasti akan dihadapkan dengan beberapa masalah yang ada, sangat kompleks sekali masalah demi masalah yang muncul. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki manusia, manusia akan selalu berusaha untuk menyelesaikan semua masalah-masalah itu. Tetapi terkadang seseorang akan lupa terhadap apa yang terjadi pada dirinya sendiri, lebih-lebih pada masalah fisik, yaitu tentang kesegaran jasmani.

Tes dan pengukuran olahraga merupakan kumpulan informasi dari dari sesuatu yang diukur, hasilnya hanyalah data-data atau angka-angka hasil pengukuran dan hasil pengukuran ini dilakukan untuk evaluasi atau untuk mengembangkan prestasi olahraga. Salah satu cabang olahraga yang akan di ukur disini adalah cabang olahraga karate. Adapun tes yang akan diukur dalam cabang olahraga karete yaitu tes kondisi fisik. Tes kondisi fisik cabang olahraga karate, merupakan suatu tes yang akan mengukur kondisi fisik calon atlet dalam cabang olahraga karate.

Tes adalah instrumen atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi berupa pengetahuan atau keterampilan seseorang. Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan mengkuantitaskan sifat atau atribut daripada obyek, orang atau kejadian menurut jenjang tertentu hingga dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan nilai berdasarkan data yang dikumpulkan melalui pengukuran.

Tes ini akan mengungkapkan mengenai kondisi fisik dalam cabang olahraga karate. Mengetahui dan memahami serta mampu melaksanakan tes keterampilan cabang olahraga amatlah penting bagi para calon guru atau pelatih olahraga. Tes kondisi fisik ini akan mencerminkan kemampuan masing-masing calon atlet mengenai kondisi fisik mereka dalam cabang olahraga tersebut. Dengan menggunakan tes kondisi fisik, kita dapat mengetahui tingkat kemampuan atlet dalam cabang olahraga tersebut. Sehingga kita dapat membuat catatan tentang hasil tes calonatlet dalam cabang olahraga karate. Selain itu tes ini dapat dijadikan dasar dalam mendiagnosa kelemahan atlet pada cabang olahraga karate, sehingga akan dapat membantu dalam proses pembinaan selanjutnya.

Karate sebagai salah satu cabang olah raga prestasi, tak luput dari perkembangan IPTEK Olahraga, meski belum bisa dilakukan secara menyeluruh tentang IPTEK olah raga ini, masih banyaknya kendala yang ditemui, sebagai contoh misalnya belum meratanya penyebaran IPTEK Olah raga baik ke tingkat Pengda Forki maupun Perguruan, sehingga masih banyaknya metode konfensional yang masih terpaku dengan sistem pembinaan yang tradisional bahkan sangat fanatik dengan sistem yang ortodok . Sistem tradisional yang masih kental terasa adalah pada sistem latihan yang tidak berpegang pada prinsip - prinsip dasar olah raga prestasi dengan benar. Tidak jarang seorang pelatih ingin menambah porsi latihan anak didiknya dengan menambah durasi latihan, tanpa memperhatikan kualitas latihan, intensitas, skill kontrol dan lain-lain, sehingga hasil yang didapat dari latihan kurang nyata keberhasilannya.

Untuk itu, dalam makalah ini penulis bermaksud untuk membahas tentang analisis cabang olahraga karate yang mecakup tentang komponen - komponen fisik yang mendukung dalam cabang olahraga karate, gerak dominan  yang dilakukan dalam olahraga karate, otot - otot yang terlibat dalam melakukan gerakan dan juga metode latihan yang akan diterapkan untuk meningkatkan potensi atlet dalam olahraga tersebut.

Dengan melakukan tes dan pengukuran ini kita dapat mengambil beberapa manfaat, diantaranya kita dapat mengevaluasi tahap latihan yang telah dilakukan, dengan hal itu kita dapat mengetahui seberapa perkembangan kondisi fisik seseorang, selain kita bisa mengembangkan prestasi atlet, kita juga bisa menjadikan ini sebagai bahan perbaikan dalam pemebelajaran atau pelatihan. Kita juga dapat termotivasi oleh hasil yang diambil dalam tes dan pengukuran ini, atau bahkan kita dapat menggunakan data ini untuk bahan sebuah penelitian.

 

B.     Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan berbagai permasalahan yang timbul, sebagai berikut :

1.  Apa itu tes dan pengukuran olahraga ?

2. Apa tujuan dan manfaat tes dan pengukuran ?

3. Apa saja komponen fisik pada olahrga Cabang Karate

4. Bagaimana jenis tes dan pengukuran yang dominan dalam cabang olahraga karate?

5.  Apa kelemahan dan kekurang jenis tes dan pengukuran da;lam cabang olahraga katrate?

 

C. Tujuan

Dalam hal ini penulis memilki tujuan yaitu  terarah dan baik. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :

1. Untuk mengetahui Apa itu tes dan pengukuran penjas dan olahraga

2. Untuk mengetahui Apa tujuan dan manfaat tes dan pengukuran

3. Untuk mengetahui komponen fisik yang ada dalam olaharga cabang karate

4. Untuk mengetahui Bagaimana jenis tes dan pengukuran dalam cabang olahraga karate

5. Untuk mengetahui apa kelemahan dan kekurang jenis tes dan pengukuran dalam cabang olahraga katrate.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tes dan Pengukuran Olahraga

Tes dan pengukuran merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam berbagai kegiatan manusia, demikian pula halnya dalam kegiatan pengajaran dan pelatihan olahraga.Karena dengan melaksanakan kedua hal tersebut kita dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan seorang atlet, sehingga akhirnya dapat membuat suatu keputusan yang tepat. Pengajaran dan pelatihan olahraga merupakan sebuah proses yang dinamis, pengajar/pelatih dan pembina menghadapi berbagai permasalahan yang membutuhkan pemecahan. Semakin teliti informasi yang diperoleh (melalui tes dan pengukuran) akan semakin baik keputusan yang diambil.

a.      Pengertian Tes

Tes menurut beberapa para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai tes adalahsebagai berikut : Menurut Johnson & Nelson (1974), tes adalah suatu bentuk pertanyaan atau pengukuran yang digunakan untuk menilai pengetahuan dan kemampuan usaha fisik dalam hal ini juga Menurut Cronbach (1960), menyatakan tes adalah suatu proses yang sistematis untuk mengobservasi tingkah laku seseorang yang dideskripsikan dengan menggunakan skala berupa angka atau sistem dengan kategori tertentu sedangkan Menurut Brown (1970), tes adalah suatu proses yang sistematis untuk mengukur tingkah laku seseorang atau individu

Dari pendapat di atas dapat di jelaskan bahwa, tes merupakan suatu alat ukur atau instrumen yang digunakan untuk memperoleh informasi/data tentang seseorang atau obyek tertentu. Data yang diperoleh merupakan atribut atau sifat-sifat yang melekat pada individu atau obyek yang bersangkutan.Data yang terhimpun meliputi ranah kognitif, afektif, dan motorik.

 

b.      Pengukuran

Menurut beberapa para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai pengukuran adalah sebagai berikut : Menurut Mathew (1979), pengukuran merupakan bagian dari evaluasi, yang dilakukan melalui prosedur kuantitatif dengan menggunakan instrumen tertentu hal tersebut juga di ungkapkan Menurut Verducci (1980), pengukuran merupakan aspek kuantitatif untuk menentukan informasi tentang sifat atau perlengkapan secara tepat dan dalam hal ini juga Menurut Kirkendall (1980), pengukuran merupakan proses pengumpulan informasi.

Dari beberapa pendapat diatas dapat penulis menyimpulkan bahwa Pengukuran merupakan proses pengumpulan data/informasi tentang individu maupun obyek tertentu, yaitu mulai dari mempersiapkan alat ukur yang digunakan sampai diperolehnya hasil (misalnya; frekuensi, jarak, waktu, dan satuan ukuran suhu). Hasilnya pengukuran bersifat kuantitatif. Jadi pengertian pengukuran adalah bagian dari evaluasi yang menggunakan alat atau teknik tertentu untuk mengumpulkan informasi, dengan satu ukuran tertentu yang bersifat kuantitatif

c.       Olahraga

Olahraga adalah suatu bentuk kegiatan fisik yang dapat meningkatkan kebugaran jasmani. Dalam olahraga tidak hanya melibatkan sistem muskuloskeletal semata, namun juga mengikutsertakan sistem lain seperti sistem kardiovaskular, systemrespirasi, sistem ekskresi, sistem saraf dan masih banyak lagi. Olahraga mempunyai arti penting dalam memelihara kesehatan dan menyembuhan tubuh yang tidak sehat (Mutohir & Maksum, 2007).

Olahraga merupakan kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot - otot tubuh. Kegiatan ini dalamper kembangannya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi (Ramadhani, 2008).

B.     Tujuan dan manfaat tes dan pengukuran

Tes dan pengukuran merupakan bagian integral proses evaluasi. Pengukuran merupakan salah satu teknik evaluasi yang berfungsi sebagai pengumpul data. Kegiatan  pengumpulan data merupakan proses pengukuran.Pengukuran yang dilakukan dalam bidang pendidikan dan keolahragaan harus mendasar pada hal hal berikut ini :

1.            Pengukuran harus dilakukan untuk mencapai tujuan

2.            Metode pengukuran dalam bidang keolahragaan jangan hanya terbatas dengan tes, karena tes hanya salah satu bagian dari pengukuran

3.            Sapai seberapa jauh fungsi olahraga berperan dalam pembangunan nasional

4.            Tes dan pengukuran hendaknya dilakukan oleh orang yang berpengalaman

Adapun tujuan dan manfaat tes dan pengukuran yaitu :

1.        Tes berfungsi sebagai alat perantara untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memecahkan masalah dan memahami beberapa konsep yang ada.

2.        Tes bertujuan sebagai proses akhir untuk setiap peserta didik terhadap beberapa materi atau konsep dan menghasilkan nilai yang sesuai dengan kemampuan peserta didik tersebut.

3.        Pengukuran berfungsi untuk mendapatkan hasil perbandingan atau nilai yang diperoleh ketika pengukuran tersebut  selesai dilakukan.

4.        Pengukuran bertujuan untuk memandingkan sesuatu dengan satu ukuran yang serupa.

Adapun fungsi lain dari tes dan pengukuran yaitu :

1.             Mengadakan klasifikasi atlit. Perihal ini bertujuan untuk menentukan pembagian kelompok dalam berlatih. Pengelompokkan atlit dalam beberapa kelompok homogeny, merupakan upaya pemberian kesempatan latihan yang baik dan akan memberikan terhadap kemajuan prestasi mereka dalam latihan. Penentuan kelompok dimaksud berdasarkan kemampuan motorik dan keterampilannnya. Bagi atlit yang memiliki tingkat kemampuan dan keterampilannya yang lebih baik, akan lebih cepat menguasai gerakan-gerakan. Tetapi bagi mereka yang tingkat kemampuannnya rendah, selanjutnya dikelompokkan dalam kemampuan motorik yang tinggi, akan berdampak negative terhadap psikologisnya atau muncul rasa rendah diri.

2.             Menentukan status atlit. Berdasarkan hasil pengukuran yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan status atlit.

3.             Mengadakan diagnose dan bimbingan.

4.             Pemberian motivasi.

5.             Perbaikan pelatihan.

6.             Menilai pelatihan dan materi pelatihannya.

7.             Sebagai alat survey.

8.             Sebagai alat bantu penelitian.

Adapun Manfaat tes dan pengukuran

1.        Menentukan Status, didalam pendidikan adalah yang harus diperhatikan adalah perkembangan anak, maka seharusnya pembina atau guru olahraga mengetahui sampai dimana perkembagan itu terjadi. Untuk itu harus dilakukan pengukuranagar diketahui status pada suatu saat ataupun dari waktu ke waktu.

2.        Klasifikasi, disekolah biasanya klasifikasi keolahragaan berdasarkan tingkat kelas bukan berdasarkan kemampuan atau keterampilan anak. Kalau dipandang dari sudtut kematangan jasmaniahnya atau ketangkasannya mereka itu akan berbeda. Oleh karena itu pengelompokan hendaknya berdasarkan kemampuan umum ketangkasannya dan diatur sesuai dengan kemajuan pembelajarannya.

3.        Diagnosa dan Bimbingan, bimbingan dimaksudkan supaya setiap anak memperoleh jalan didalam menghadapi kesukaran-kesukaran yang dialami. Bimbingan mengharuskan adanya evaluasi tentang kapasitas dan kemampuan anak sehingga proses pengajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak.

4.        Motivasi, Achievment score/nilai dalam keolahragaan dapat menjadi perangsang bagi anak untuk berlatih lebih giat.

5.        Perbaikan mengajar, testing dan evaluasi adalah suatu bagian dari pengajaran mempunyai tempat yang tepat dalam program pengajaran. Tes harus ditempatkan pada bagian yang sudah dirancang pada tujuan pembelajaran sebelumnya sehingga nilai tes tersebut dapat digunakan sesuai dengan tujuan dari bahan pembelajaran yang disajikan.

C.    Komponen Kondisi Fisik dan Jenis Instrumen tes pengukuran pada Cabang Karate

Dalam makalah ini penulis bermaksud untuk membahas tentang analisis cabang olahraga karate yang mecakup tentang komponen - komponen fisik yang mendukung dalam cabang olahraga karate, gerak dominan  yang dilakukan dalam olahraga karate, otot - otot yang terlibat dalam melakukan gerakan dan juga metode latihan yang akan diterapkan untuk meningkatkan potensi atlet dalam olahraga tersebut.

Dalam hampir semua kegiatan manusia sehari-hari, baik dalam kegiatan fisik maupun non fisik, kondisi fisik sesorang sangat berpengaruh. Dalam konteks yang lebih khusus yaitu dalam kegiatan olahraga, maka kondisi seseorang sangat mempengaruhi bahkan menentukan gerak penampilannya. Kondisi fisik itu sendiri adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya.Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan (Sajoto. 1990: 16).

Dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik dan instrument pengukuran dalam cabang olaharaga karate perlu dilakukan analisis gerak- gerakan yang terdapat dalam pertandingan maupun teknik gerakan olaharga karate.

1.    Komponen kondisi Fisik olaharga cabang karate

Dalam cabang olaharga dapat dianlisis komponen fisik yang harus dilatih, dilihat dari gerakan – gerakan pada olaharga tersebut. Adapun komponen fisik yang dominan terdapat di cabang olahraga yaitu :

a.       Kekuatan (strenght)

Kemampuan dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.

b.      Kecepatan (speed)

Kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dengan waktu sesingkat-singkatnya.

c.       Kelincahan (agility)

Kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu.

d.      Daya Tahan (endurance)

Kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru, dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus.

e.       Kelentukan (flexibility)

Efektifitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktifitas dengan penguluran tubuh yang luas.

f.       Koordinasi (coordination)

Kemampuan seseorang mengintegrasikan berbagai gerakan yang berbeda kedalam pola gerakan tunggal secara efektif.

g.      Ketepatan (accuracy)
Kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap suatu sasaran.

h.      Reaksi (reaction)

Kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera.

Secara rinci dapat dijelaskan bahwa anggota tubuh yang membutuhkan komponen kondisi fisik adalah sebagai berikut :

Ø  Punggung

Punggung membutuhkan kekuatan otot, dan daya tahan otot.

Ø  Lengan

Lengan membutuhkan kekuatan otot, daya tahan otot, kelentukan, dan power.

Ø  Tungkai

Tungkai membutuhkan kekuatan otot, daya tahan otot, kelincahan, kelentukan dan power.

2.    Jenis Tes dan Instrumen Pengukuran pada cabang olaharga karate

Tes dan instrument pengkuran yang dapat dilakukan berdasarkan analisis gerak pada kondisi komponen fisik pada cabang olaharga karate sebagai berikut :

a.       Kekuatan (strength)

Secara sederhana, kekuatan diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan gaya untuk mengangkat atau menahan suatu beban. Kekuatan juga bisa diartikan sebagai besarnya tenaga kontraksi otot yang bisa dicapai dalam satu kali usaha maksimal. Berikut ini adalah pengertian kekuatan menurut para ahli yaitu Menurut Bompa adalah kemampuan otot dan saraf tubuh untuk mengatasi beban internal dan beban eksternal. Sedangkan kekuatan menurut Mochamad Sajoto adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban saat bekerja. Berikut ini adalah beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kekuatan seseorang:

-       Koordinasi intermuskuler

Koordinasi intermuskuler merupakan interaksi yang dilakukan oleh sejumlah kelompok otot pada saat melakukan kegiatan, khususnya aktivitas jasmani yang memerlukan kekuatan.

-       Koordinasi intramuskuler

Kekuatan juga bisa dipengaruhi oleh koordinasi intramuskuler, atau dengan kata lain tergantung pada fungsi saraf otot yang terlibat dalam pelaksanaan tugas aktivitas fisik.

-       Reaksi otot terhadap rangsangan saraf

Menurut Kuznetsuv, otot akan memberikan reaksi terhadap rangsangan saraf sebesar 30% dari total potensi yang dimiliki oleh otot yang bersangkutan.

-       Sudut sendi

Beberapa penelitian menyatakan bahwa kekuatan maksimum akan tercapai jika sendi yang terlibat dalam kegiatan tersebut berada pada kondisi yang benar-benar lurus atau mendekati lurus.

Sedangkan berdasarkan bentuk dan waktu pelaksanaannya, kekuatan dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut:

·      Kekuatan Umum (General Strength) adalah kekuatan dari sistem otot secara menyeluruh.

·      Kekuatan Khusus (Specific Strength) merupakan kekuatan yang terdapat pada otot-otot tertentu yang terlibat secara khusus pada gerakan atau cabang tertentu (dianggap sebagai penggerak utama).

·      Kekuatan Maksimal (Maximum Strength)merupakan kekuatan paling besar yang bisa dikeluarkan oleh sistem saraf otot saat tubuh melakukan kontraksi maksimum.

·      Kekuatan Mutlak adalah kemampuan atlet dalam mengarahkan tenaganya secara maksimaltanpa mempertimbangkan faktor berat badannya.

·      Kekuatan Nisbimerupakan rasio antara kekuatan mutlak dengan berat badan yang dimiliki seseorang.

·      Kekuatan Kecepatan (Daya Ledak)merupakan hasil dari dua kemampuan, yakni kekuatan dan juga kecepatan.

·      Kekuatan Daya Tahan (Daya Tahan Otot)merupakan kemampuan otot dalam melakukan kegiatan yang relatif berat dalam jangka waktu lama.

Berikut adalah salah satu bentuk pelaksaan tes beserta pengukuran pada tes dan pengukuran kekuatan:

- Tes Leg (kekuatan otot extensor kaki (tungkai)

Alat yang digunakan dalam tes kekuatan otot mendorong adalah Back And Leg Dynamometer, satuan dari Back And Leg Dynamometer adalah kilogram (Kg). Prosedur pelaksanaan tes sebgai berikut: 1. Orang coba berdiri di atas tumpuan back leg dynamometer, 2. Kedua tangan memegang bagian tengah tongkat pegangan back leg dynamometer, 3. Kedua tangan lurus, 4. Punggung lurus, 5. Sedangkan lutut ditekuk mebuat sudut krang lebih 120 derajat, 6. Setelah itu tarik tongkat pegangan keatas sekuat-kuatnya dengan meluruskan lutut, 7. Tumit tidak boleh diangkat, 8. Dilakukan 3 kali, diambil hasil yang terbaik.

Tabel : Tes Leg (kekuatan otot extensor kaki (tungkai)

Putra

Putri

Baik Sekali

≥ 259.50

Baik Sekali

  219.50

Bagus

187.50 – 259.00

Bagus

171.50 – 219.00

Sedang

127.50 – 187.00

Sedang

127.50 – 171.00

Cukup

84.50 – 127.00

Cukup

81.50 –127.00

Kurang

SD –84.00

Kurang

SD –81.00

 

-  Tes Sit –up

Kemampuan Sit up bertujuan mengukur komponen daya tahan dinamis lokal otot perut. Peserta tidur terlentang, kedua tangan saling berkaitan dibelakang kepala, kedua kaki dilipat sehingga lutut membentuk sudut 90o. Seseorang membantu untuk memegang erat-erat kedua pergelangan kaki orang coba dan menkannya pada saat orang coba bangun. Peserta tes berusaha bangun sehingga berada dalam sikap duduk dan kedua siku dikenakan pada kedua lutut dan kemudian dia kembali kesikap semula. Gerakan ini dilakukan secara berulang-ulang, sampai peserta tes tak mampu mengangkat badannya lagi selam waktu yang telah ditentukan. Perhatikan agar sikap tungkai selalu membentuk sudut 90o pada waktu melakukan sit up.

 

Gambar: Tes Sit-up

Untuk mengetahui kategori penilaian dalam tes sit up dalam 1 menit yang dikemukakan oleh Nurhasan (1991:226) sebagai mana yang terdapat dalam tabel berikut ini:

Tabel : Norma Tes sit up dalam 1 menit

Putra

Putri

Sempurna

> 90

Sempurna

> 28

Baik Sekali

70 – 89

Baik Sekali

21 – 27

Baik

50 – 69

Baik

14 – 20

Cukup

30 – 49

Cukup

7 – 13

Kurang

10    – 29

Kurang

0 – 6

Sumber: Manusia dan Olahrga

 

-  Tes Kekuatan Pegangan (Hand Dynamometer)

Grip strength dilaksanakan untuk mengetahui kekuatan otot peras tangan.Kekuatan otot peras tangan juga termasuk dalam komponen kesegaran jasmani,maka sangat perlu untuk kekuatan otot ini tetap selalu dilatih untuk ditingkatkan kekuatannya.
Alat yang digunakan dalam tes Grip Strenght ini adalah Grip Strenght Dynamometer atau Hand Dynamometer.Satuan dari alat ini adalah Kilogram (Kg).
 untuk Prosedur Pelaksanaan Tes sebagai berikut: 1. Pengukuran Otot Peras Tangan Kanan dan KiriOrang coba berdiri tegak dengan posisi kaki dibuka kurang lebih 20 cm atau selebar bahu, 2. Pandangan lurus kedepan. Tangan memegang Grip Strenghtdynamometer Tangan harus lurus. Skala dynamometer menghadapkeluar atau kedepan. Jarum dynamometer berada  pada     angka   nol, 3. Setelah itu, Grip Strenght Dynamometer diperas dengan sekuat tenaga, 4. Hanya dengan sekali perasan. Penekanannya tidak boleh dengan sentakan, 5. Tangan yang diperiksa maupun alat grip streng dynamometer tidak bolah tersentuh badan ataupun benda lain, 7. Hasil tes dapat dilihat pada skala dynamometer.Dilakukan sebanyak 3 kali ,di ambil hasil yang terbaik, 8. Norma penilaian dan klasifikasi kekuatan peras otot tangan kanan pria dan wanita:

Tabel : Tes Hand Dynamometer

Putra

Putri

Baik Sekali

≥ 259.50

Baik Sekali

  219.50

Bagus

187.50 – 259.00

Bagus

171.50 – 219.00

Sedang

127.50 – 187.00

Sedang

127.50 – 171.00

Cukup

84.50 – 127.00

Cukup

81.50 –127.00

Kurang

SD –84.00

Kurang

SD –81.00

Sumber:http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2012/11/macm-macam-tes-pengukuran-kekuatan.html

 

b.      Latihan Kecepatan ( Speed )

Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui kecepatan dan kekuatan otot peserta, adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut: Peserta berdiri dibelakang garis start pada aba-aba “siap” peserta mengambil sikap start berdiri, siap untuk berlari. Pada aba-aba “ya” maka peserta berlari secepat mungkin hingga garis finish, menepuh jarak 30 meter. Pengukuran waktu dilakukan pada saat pertama kali bendera di angkat sampai pelari melintas garis finish.

Gambar: Posisi sikap start lari 30 meter.

Untuk mengetahui kategori penilaian dalam tes lari 30 m yang dikemukakan oleh Nurhasan (1991:226) sebagai mana yang terdapat dalam tabel berikut ini:

Tabel: Norma Tes Lari 30 meter

Putra

Putri

Sempurna

> 4.6

Sempurna

>  6.8

Baik Sekali

4.7 – 5.7

Baik Sekali

6.9  – 7.5

Baik

5.8 – 6.8

Baik

7.6 – 8.3

Cukup

6.9 – 7.9

Cukup

8.4 – 9.1

Kurang

8 – 9

Kurang

9.2 – 9.9

Sumber: Manusia dan Olahraga

c.       Kelincahan (agility)

Secara umum, kelincahan diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengubah arah secara cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan tubuh. Sebenarnya kelincahan berkaitan erat dengan unsur kecepatan dan kelenturan.Pasalnya, tanpa kedua unsur ini, seseorang tak mungkin bisa bergerak dengan lincah. Kendati demikian, ternyata ada beberapa faktor lain juga mempengaruhi kelincahan seseorang yaitu keseimbangan.

Adapun beberapa jenis tes kelincahan yang ada pada saat ini.tetapi yang akan dibahas pada tulisan ini ialah Shuttle Run. Berikut penjelasan dari kedua tes tersebut.

-       Shuttle run yaitu biasa dikiaskan lari bolak-balik. Ditempuh dengan jarak 40 meter. Jarak lintasan bisa dimodifikasi sendiri oleh pengetes. Jika terdapat tiga garis dan masing-masing garis berjarak 5 meter, maka orang coba akan melakukan 4 kali melewati garis finis.

 

Prosedur pelaksanaan tes :
    • Start berdiri.
    • Kaki menginjak garis start dan tidak boleh melebihi garis start.
    • Menunggu aba-aba ( peluit atau ucapan ” siap, ya”
    • Kedua kaki melewati garis A kemudian lari menuju garis
    • Finis, jika salah satu kaki menginjak garis finis.
    • Alat yang harus disiapkan sebelum tes yaitu, stop watch, peluit,

Norma penilaian:

Yang tercepat adalah yang terbaik. Kelincahan lari dihitung sampai dengan 0,1 atau 0,01 detik.

Skor

Shttle run

Putra

Kriteria

Shuttle run putrid

5

<15,5

Sempurna

<16,7

4

16 – 15,6

Baik sekali

17,4-16,8

3

16,6-16,1

Baik

18,2-17,5

2

17,1-17,6

Cukup

18,9– 18,3

1

17,7-17,2

Kurang

19,6 -19,0

Sumber: http://pecintahockey.blogspot.com/2012/06/tes-dan-pengukuran-olahraga.html

d.      Kelentukan (Flexibility)

Kelenturan merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan gerak dengan ruang gerak seluas-luasnya dalam persendiannya.Faktor utamanya adalah bentuk sendi, elastisitas otot, dan juga ligamen.Adapun ciri-ciri dari latihan kelenturan adalah meregangkan persendian dan mengulur sekelompok otot.Kelenturan ini sangat penting bagi kalangan atlet karena mempermudah mereka dalam mempelajari sejumlah gerakan, mengurangi resiko cedera, serta mengoptimalkan kecepatan, kekuatan, dan koordinasi tubuh.

Kelenturan tubuh bisa ditingkatkan melalui latihan peregangan (stretching), seperti peregangan dinamis dan peregangan statis. Peregangan dinamis atau peregangan balistik merupakan jenis peregangan yang dilakukan dengan cara menggerakan tubuh atau anggota tubuh secara berirama. Sedangkan peregangan statis merupakan cara meregangkan sekelompok otot secara perlahan-perlahan hingga mencapai titik rasa sakit yang berusaha dipertahankan selama 20 hingga 30 detik. Peregangan statis bisa dilakukan dalam beberapa kali ulangan, seperti misalnya 3 kali dalam setiap bentuk latihan.

Ada beberapa tes kelentukan yang biasa digunakan oleh para pegiat olahraga tetapi dalam tulisan ini kami akan membahas tentang dua jenis tes kelentukan yaitu sebagai berikut:

- tes shit and reach

a.  alat yang digunakan Alat yang digunakan untuk tes kelentukan tes ini bangku/mistar dengan ukuran 50 cm atau biasa juga yang disebut dengan Flexibility Meter.

b. Prosedur pelaksanaan tes :

· Peserta atau orang coba tidak memkai alas kaki

· Peserta duduk dengan kaki lurus menyentuh balok tes.

· Lutut bagian belakang lurus ( tidak boleh ditekuk )

· Pelan-pelan bungkukkan badan dengan posisi tangan lurus, ujung jari dari kedua tangan menyentuh mistar skala/pengukur

-           Tangan yang mendorong harus selalu menempel di alat tes.

-          Dimulai dari angka -20.( karena tingkat kelentukan masing- masing individu itu berbeda-beda, jadi jika hal ini dimulai dari angka nol, objek sudah tidak mampu )
 Dilakukan 3 x, diambil hasil tes yang terbaik.

Norma penilaian Sit and reach.
Kategori Pria Wanita
Bagus Sekali +21 +22
Bagus +17 +18
Sedang +11 +12
Cukup +5 +8
Kurang -2 +

e.       Daya Tahan

Tes Lari 12 Menit/Tes Balke

Pengukuran kemampuan lari 12 menit bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya tahan umum (cardiovaskuller) setiap peserta tes. Peserta tes berdiri di belakang garis start. Pada saat aba-aba ‘ya’ diberikan, tester mulai berlari selama 12 menit, sampai ada tanda waktu 12 menit telah berakhir dan peluit dibunyikan.

Untuk mengetahui kategori penilaian dalam tes lari 12 menit/tes balke yang dikemukakan oleh Nurhasan (1991:227) sebagai mana yang terdapat dalam tabel berikut ini:

Tabel: Norma Tes Lari 12 Menit/Tes Balke

Putra

Putri

Luar Biasa

> 2.74

Luar Biasa

> 2.35

Baik Sekali

2.65 – 2.84

Bagus Sekali

2.17 – 2.33

Bagus

2.41 – 2.64

Bagus

1.98 – 2.16

Sedang

2.12 – 2.40

Sedang

1.80 – 1.96

Kurang

1.96 – 2.10

Kurang

1.54 – 1.79

Kurang Sekali

< 1. 96

Kurang Sekali

< 1. 55

Sumber: Manusia dan Olahraga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa karate adalah olahraga beladiri yang melibatkan gerakan – gerakan kompleks, dimana gerakan tersebut melibatkan anggota tubuh secara keseluruan. Dan olahraga karate juga membutuhkan komponen fisik pendukung seperti kekuatan, kecepatan, daya tahan, kelincahan, keseimbangan dan lain-lain. Sistem energy yang digunakan dalam olahraga karate adalah sistem an aerobic yang meliputi Adenosin Triposphat, Asam laktat dan juga Gikogen Otot. Dalam proses pembinaan,Pengambilan data merupakan keharusan untuk melihat kondisi awal hingga proses perkembangan.Tes dan pengukuran dapat memiliki beberapa tujuan, diantaranya dapat menentukkan status, klasifikasi, seleksi, bimbingan dan diagnosis, motivasi, pemeliharaan hasil, kelengkapan pengetahuan, kegiatan penelitian.

B.  Saran

Dalam hal ini penulis menginginkan untuk melakukan tes dan pengukuran sasarannya harus jelas jika tidak, maka akan berakhir dengan sebuah percobaan yang tanpa arah dan tujuan.Pengukuran dan tes harus dilakukan dan diawasi oleh orang-orang terlatih. Tidak setiap orang dapat mengelola program evaluasi dengan baik.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Rahman Situmeang, M.Pd, 2010. Karate, Medan : Fik UNIMED

Lutan, Rusli dkk. 1992. Manusia dan Olahraga. IKIP Bandung

Muhajir. 2016. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: Kemendikbud

Palar, Chrisly. 2015. Manfaat latihan aerobik terhadap kebugaran fisik manusia. Jurnal e-Biomedik (e Bm), 3 (1): 316-321.

Sajoto, M. 1998. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Semarang: Dahara priz.

 


0 Komentar